Welcome

Selamat datang di FaSyaRaNa's Rabbit Project

Rabu, 18 Januari 2012

Jenis-Jenis Kelinci

(Kelinci Anggora, Lop, Flemish, Satin, Rex, Polish, ND, dsb)

Saat ini terdapat banyak jenis kelinci yang beredar dan diternakkan di Indonesia, baik itu sebagai kelinci potong maupun sebagai kelinci hias. Disini akan diuraikan jenis-jenis kelinci yang relatif populer dan banyak dipelihara penggemar kelinci maupun peternak kelinci.

1.    Kelinci ANGGORA (ANGORA)
 
Kelinci Angora adalah salah satu jenis kelinci peliharaan tertua, berasal dari Ankara, Turki, yang pertama kali ditemukan dan dibawa oleh pelaut Inggris. Kemudian di bawa ke Perancis tahun 1723. Tahun 1777 Angora menyebar ke Jerman. Tahun 1920 meluas ke negara-negara Eropa Timur, Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat. Sampai kini Prancis menjadi pusat peternakan kelinci Angora terbesar yang menghasilkan wool.

Di Indonesia kelinci jenis angora banyak diminati sebagai kelinci hias.

Ada banyak jenis kelinci angora, misalnya French anggora, German anggora, Giant anggora, English anggora, Satin anggora, Chinese anggora, anggora Swiss, Finnish anggora, dsb. Kelinci angora Inggris merupakan keturunan angora Perancis (French angora).

Warna bulunya bervariasi putih, coklat, hitam, hitam putih, agouti, bintik-bintik putih, abu-abu, oranye, dan campuran atau kombinasi dari warna-warna tsb.

Kelinci anggora memiliki ciri bulu yang tebal dan lembut diseluruh bagian permukaan tubuhnya. Selain itu terdapat ciri lain, yaitu adanya bulu yang tumbuh di ujung telinga dan kaki depan, bersamaan dengan bulu panjang yang terdapat di tubuhnya. Kelinci ini memiliki temperamen yang lembut, tetapi tidak cocok untuk orang yang tidak suka menyisiri binatang peliharaannya.

Pada umur dewasa mereka bisa mencapai berat 2,0 kg - 4,0 kg baik jantan maupun betina, dan berumur 5-7 tahun tergantung jenis dari anggoranya. Jumlah anak maksimal dalam satu kali melahirkan sebanyak 6 ekor. Pertumbuhan bulunya yang sangat cepat yakni 2.5 cm per bulan, sehingga harus rajin mencukurnya 6-8 cm setiap tiga bulannya agar bulunya tidak menggumpal.

2.    Kelinci LOP (ENGLISH LOP, HOLLAND LOP, dsb)

Kelinci Lop ini ada berbagai macam/jenis, antara lain english lop, holland lop, dwarf lop, american fuzzy lop, anggora/angora lop, french lop, dsb.

Diantara macam-macam kelinci Lop tersebut di atas, yang relatif paling terkenal adalah English Lop (Kelinci Lop Inggris).

Ciri dari jenis lop umumnya adalah bentuk kepala lebar, dan telinga yang menggantung dari pangkal kepala hingga ke samping pipi, tidak seperti kelinci lain yang pada umumnya memiliki telinga tegak.

Pada usia dini kelinci lop belum menunjukan telinganya yang koploh, hingga usia 2- 4 bulan baru bisa terlihat perubahan pada posisi telinga. Sekilas jenis ini seperti anjing, menarik, dan sangat lucu sehingga digemari banyak orang.

Kelinci lop Holland mempunyai telinga panjang dan jatuh, hidung pesek. Sedangkan French lop mempunyai telinga super panjang hingga menyentuh tanah, namun jenis ini cukup sulit hidup di Indonesia. Panjang tubuhnya 12-23cm. Variasi warnanya putih atau abu-abu. Mata merah atau coklat.

3.    Kelinci FLEMISH GIANT
      
Kelinci Flemish Giant termasuk jenis "raksasa" karena tubuhnya yang besar sekali untuk ukuran kelinci pada umumnya, beratnya dapat mencapai 13 kg. Kelinci ini dengan pakan khusus beratnya pernah mencapai 22,23 kg dan masuk Guinness World Records.

Kelinci ini dulunya merupakan keturunan dari kelinci liar Argentina, pada abad 18 pedagang dari Belanda membawa kelinci raksasa dari Argentina ke Eropa dan membudidayakannya. Catatan resmi dari jenis ini sendiri baru ada pada tahun 1860.
Awalnya kelinci flemish giant hanya dikembangkan di Inggris untuk memenuhi permintaan akan daging kelinci di negara tersebut. Kemudian kelinci ini menyebar ke seluruh dunia, karena kebutuhan akan daging kelinci membuat kelinci jenis ini digemari dan diternakan secara besar-besaran di berbagai negara.

Walaupun jenis kelinci Flemish Giant ini pada umumnya diambil dagingnya, namun di Indonesia cenderung sebagai kelinci peliharaan atau kelinci hias, khususnya bagi yang menyukai pada bentuk tubuhnya yang besar.

Ciri-ciri umum dari flemish giant adalah mempunyai badan yang panjang (saat dewasa lebih dari 51 cm), dan besar, bertulang tebal, dan dada penuh berisi. Kepala lebar, telinga panjang dan tebal serta berdiri (saat dewasa panjang telinga lebih dari 15 cm), serta mempunya kaki yang besar, panjang dan kokoh.

Warna dari kelinci flemish giant yang diakui adalah hitam, biru, coklat kuning muda (fawn), abu2 terang, seperti pasir (sandy), abu2 besi (steel grey), dan putih.

4.    Kelinci REX

Kelinci rex memiliki ciri khas pada bulunya yang halus dan lembut seperti beludru. Pertama kali rex ditemukan di Prancis dari keturunan kelinci liar pada tahun 1919. Mereka mulai dikenal saat dipublikasikan pada Paris International Rabbit Show pada tahun 1924. Dan tahun setelahnya rex mulai diimport ke Amerika Serikat dalam jumlah besar.

Oleh karena keindahan bulunya, maka jenis kelinci ini banyak dibudidayakan sebagai penghasil daging dan bulu selain sebagai hewan peliharaan (sebagai kelinci hias). Bulu mereka yang eksotis tersebut digunakan sebagai bahan baku jaket atau aksesoris pakaian.

Kelinci Rex ini ada berbagai macam/jenis bergantung dari warna bulunya, antara lain white rex, dalmatian rex (bertotol), black rex, pappilon res, ermine rex, blue rex, dsb. Beberapa peternak di Indonesia memberi nama sendiri, misalnya tricolor rex (tiga warna), dsb. Kelinci Rex yang paling terkenal adalah White Rex, yang berbulu putih mulus dan tebal.

Bulu halus kelinci Rex akan semakin indah dan kualitas bulunya semakin baik jika hidup di lingkungan yang bersuhu rendah, yaitu berkisar 5-15 C. Namun bukan berarti tidak dapat hidup di daerah tropis yang bersuhu panas, hanya saja bulunya tidak seindah bila hidup di daerah dingin.

5.    Kelinci DUTCH (Kelinci BELANDA)

Kelinci Dutch atau juga dikenal dengan kelinci Belanda, awalnya berasal dari negeri kincir angin (negeri Belanda).

Kelinci Dutch ini bulunya pendek dan kaya warna, antara lain hitam putih, coklat, abu-abu atau perpaduan warna itu. Warna bulunya khas, melingkar seperti pelana berwarna putih dari punggung terus ke leher sampai kaki depan bagian belakang dan kepala hitam, coklat atau abu-abu, moncong dan dahi putih. Umumnya kaki depan seluruhnya putih, namun ada yang tidak demikian. Kaki belakang umumnya berwarna hitam atau warna lain dengan ujung kaki putih. Ada pula yang sekaligus memiliki 3 macam warna, sering di sebut Tricoloured Dutch atau kembang telon.

Karena kaya warna dan keunikan kombinasi warna bulunya, kelinci dutch ini merupakan kelinci yang paling digemari oleh para peternak dan para pencinta hewan peliharaan.

Kelinci Dutch ini termasuk jenis kelinci yang berukuran mini atau kerdil, berat induk dewasa hanya 1 - 2,5 kg. Kelinci betinanya bersifat keibuan fertilitasnya tinggi. Setiap kali melahirkan, kelinci menghasilkan anak 7-8 ekor.

6.    Kelinci ENGLISH SPOT

Kelinci ini berasal dari Inggris dan mulai diternakan pada abad ke-19 yang juga dikenal sebagai English rabbit (kelinci Ingris). Kelinci ini merupakan silangan flamish giant, English lop, Patagonian, angora, dutch, silver dan Himalayan.

Warna dasarnya adalah putih bersih dan ber-spot. Variasi lainnya yaitu hitam, coklat, abu-abu. Spotnya terdapat diseluruh badan dan di hidung ada spot besar. Kelinci english spot memiliki garis hitam, coklat, atau abu-abu pada punggungnya, warna bulu hitam, coklat atau abu-abu juga terlihat di sekitar mata, hidung, dan telinga. Pada bagian perut terdapat totol (bintik-bintik) hitam, coklat atau abu-abu.

Termasuk jenis kelinci berbadan besar, hampir mirip dengan jenis rex namun berbulu lebih halus.

7.    Kelinci HIMALAYAN (Kelinci CINA/RUSIA)

Kelinci ini memiliki nama lain kelinci cina atau kelinci rusia. Kelinci himalayam berwarna putih diselingi dengan warna disekitar hidung, telinga, ekor, dan pada kaki setelah mereka beranjak dewasa dengan mata berwarna merah muda.
Kelinci Himalayan ini termasuk salah satu jenis yang paling digemari dan dicari di Indonesia.

Awalnya kelinci Himalayan memiliki berat standar 2,5 - 4,5 kg, tubuhnya ramping dan seperti tabung saat berbaring. Namun dalam perkembangan selanjutnya juga bersamaan dengan penyilangan-penyilangan, saat ini banyak juga berukuran mini, dengan berat sekitar 1 kg. Di alam kelinci ini aktif pada malam hari dan tidur di siang hari.

Termasuk kelinci berbadan kecil seperti kelinci hotot, ciri yang membedakan adalah adanya warna yang khas pada bagian telinga, wajah, dan kaki. Variasi warna ada yang hitam, coklat, dan kebiruan.

8.    Kelinci LION (LIONHEAD)

Kelinci lion awalnya adalah kelinci Anggora Inggris yang tidak jadi, kupingnya pendek, wajahnya di penuhi bulu-bulu panjang, mirip seperti lion (singa) yang cenderung lucu. Karena kepalanya seperti singa, maka kondisi ini dipertahankan dan selanjutnya dinamakan kelinci singa (lion).

Kelinci Lion memiliki telinga yang pendek dan khas pada bulunya yang tumbuh memanjang disekitar leher dan wajah seperti seekor singa dengan tubuh yang pendek dan bulat. Saat masih kecil (sekitar umur 2 bulan), lyon mirip dengan angora. Bulu panjang merata di tubuhnya. Begitu dewasa akan semakin jelas perbedaannya. Bagian kepala dan leher bulunya panjang. Warnanya beragam antara lain putih, hitam, abu-abu, coklat kemerahan, kekuningan, dsb.

Ukuran tubuh kelinci ini masuk dalam kategori kelinci kecil sampai sedang. Karena kelinci ini masih saudara dekat dengan angora, maka tiap 3 bulan sekali harus rajin mencukur bulunya yang cepat tumbuh.

9.    Kelinci SATIN

Jenis ini awalnya berasal dari Amerika Serikat, tubuhnya memiliki bobot 3,8 - 5,0 kg. Mereka memiliki ciri pada bulunya yang tebal dan jarak antar bulu begitu rapat, kepala agak bulat dan telinga tegak tidak begitu panjang.

Secara penampilan kelinci Satin mirip dengan jenis kelinci Rex, sehingga sering juga disebut kelinci Rex Satin, namun bulunya agak sedikit tebal dan lebat, Warnanya bervariasi, antara lain coklat, merah, krem, perak, dan ada juga yang kombinasi dengan totol-totol putih.

Kelinci Satin ini badannya panjang, kepala lebar, leher pendek, telinganya yang lebar tampak seimbang dengan badannya. Tulang-tulangnya tampak kuat, kakinya lurus, dan kukunya hitam gelap.

Kelinci satin memiliki 11 varietas yaitu hitam, biru, California, broken, chinchilla, coklat, tembaga, otter, merah, siam dan putih. Kelinci satin yang pertama kali muncul adalah mutasi kelinci Havana coklat, mutasi ini pada batang rambut berupa pencahayaan.
Untuk membuat bulu yang sehat dan tubuh yang ideal diperlukan pakan dengan protein tinggi dan biji bunga matahari dan bulu kelinci satin tidak diperlukan perawatan khusus namun hanya rutinitas menyikat bulu.

Penemu kelinci satin adalah Walter Kwik dari Indiana yang berasal dari pengembangan kelinci Havana tahun 1930. Selanjutnya Walter K mengirim kelincinya ke Havard University dimana pakar genetika menetapkan adanya mutasi baru merupakan gen resesif dengan bulu yang bersinar dan tekstur bulu pendek. Mutasi ini mirip dengan mutasi kelinci rex.
Selanjutnya gen kelinci satin diperkenalkan dalam banyak warna antara lain hitam, biru, California, chinchilla, cokelat, tembaga, otter, merah, siam, putih dan varietas broken. Kelinci satin ini sekarang dicrosskan dengan berbagai jenis kelinci antara lain angora satin, dwarf satin dan rex satin untuk berbagai tujuan keperluan industri perkelincian.

10.    Kelinci ND (NETHERLAND DWARF)

Kelinci Netherland Dwarf ini termasuk ras kelinci kerdil yang awalnya berasal dari Belanda, sering juga disebut kelinci mini (sebesar marmut). Bobot dewasa nya di bawah 1 kg. Bentuk tubuhnya pendek, kepalanya agak bulat, leher pendek sehingga dijuluki lost neck rabbit, ukuran telinganya kecil.

Bulunya tidak tebal, warnanya bervariasi karena kelinci ini banyak disilangkan, yang paling diminati adalah berwarna putih dengan warna mata merah. Kelinci ini ditemukan tahun 1940, kemudian dikembangkan oleh J. Meijerig dan C. W. Calcar, dan disebarkan ke negara-negara lain, termasuk Indonesia sebagai binatang hias, dan banyak yang menggemarinya.

11.    Kelinci NEW ZEALAND (WHITE, RED, BLACK, dsb)

Kelinci New Zealand termasuk kelinci berbadan besar, karena tumbuhnya cepat besar sehingga sering diternakan untuk dikonsumsi dagingnya (berat dewasa sekitar 5 kg lebih, anaknya dapat mencapai 10-12 ekor). Sesuai dengan namanya, jenis kelinci ini berasal dari New Zealand dan awalnya berkembang selain di New Zwaland sendiri, juga di Amerika Serikat dan Australia. Namun sekarang sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Kelinci New Zealand ini ada berbagai warna dan dinamakan sesuai warna tsb, misalnya New Zealand White (putih), New Zealand Red (merah), New Zealand Black (hitam) dsb. Yang paling populer adalah kelinci New Zealand White, bulunya putih mulus, padat, tebal, mata umumnya berwarna merah.

12.    Kelinci HOTOT

Kelinci Hotot mempunyai tanda khusus yaitu adanya bulatan hitam di sekeliling matanya, sehingga tampak seperti celak tebal atau ninja. Kelinci jenis ini berbadan kecil, umumnya berwarna putih.

13.    Kelinci HARLEQUIN

Disebut Harlequin bila ada aneka warna dalam satu individu dengan corak beraturan membentuk garis lurus, misalnya coklat, hitam, coklat tua, coklat kemerahan, abu-abu, biru, silver, dsb. Oleh karena itu, kelinci dengan kombinasi warna seperti itu dinamakan kelinci Harlequin.

Kelinci Harlequin memang mempesona dengan kombinasi warna yang unik bergaris dan belang-belang. Harlequin Rex bentuknya tubuhnya seperti Rex, Harlequin Lop bentuk tubuhnya seperti Lop, Harlequin Anggora bentuknya seperti Angora, dsb.

14.    Kelinci TAN

Kelinci Tan ini termasuk kelinci kecil, bulunya mengkilap berwarna cokelat kemerah-merahan (ada juga yang hitam abu-abu). Warnyanya jelas, terang, terdapat di bawah dagu sampai ke dada, tengkuk, dan bawah ekor. Bagian perut sampai bagian sebelah dalam kaki depan juga berwarna cokelat kemerah-merahan, telapak kakinya putih. Jenis kelinci ras Tan ini sangat sesuai untuk peliharaan dan digemari.

Kelinci Tan ini ditemukan tahun 1880 di Culland Hall dekat Braillsford (Derbyshire), masih liar dan penakut. Setelah dikembangbiakkan lahirlah kelinci dengan warna perpaduan hitam dan coklat tua, biru dan putih kebiruan (lilac). Kelinci jenis ini sangat gagah dan menarik.

15.    Kelinci POLISH

Kelinci Polish termasuk kelinci berbadan kecil mungil, bulu-bulunya halus dan berwarna aneka rupa. Telinganya tegak, pendek bulat cenderung meruncing. Kepalanya bulat dan matanya merah delima atau biru, namun ada juga yang hitam.

Kelinci ras Polish ini hampir mirip dengan kelinci Netherland Dwarf, hanya sedikit lebih besar.

16.    Kelinci HAVANA

Kelinci Havana ini disukai penghobi kelinci karena sifatnya yang tenang, temperamennya yang lembut, dan bulunya yang lembut serta mengkilat. Sebenarnya Kelinci Satin berasal dari kelinci Havana ini.

Kelinci Havana pertama kali dikembangkan di Belanda tahun 1898. Kemudian kelinci Havana mulai menyebar di Eropa pada tahun 1908, di Amerika tahun 1916, dan sejak itu kemudian menyebar ke benua dan negara lainnya, termasuk Indonesia.

Ciri-ciri Kelinci Havana :
•    Memiliki tubuh yang kecil, pendek, namun kompak dengan bahu berotot.
•    Memiliki kepala kecil dengan leher hampir tak terlihat.
•    Awalnya memiliki warna yang solid (warna seragam seluruh tubuh) yaitu coklat, hitam, dan biru, namun saat ini juga muncul belang-belang akibat persilangan kelinci lainnya.
•    Memiliki bulu yang tipis, sangat lembut, dan mengkilap degan panjang sekitar 2,5 cm.
•    Berat rata2 untuk kelinci jenis ini adalah 2,75 kg.

17.    Kelinci JERSEY WOOLY (Kelinci DWARF ANGORA)

Kelinci Jersey Wolly adalah kelinci jenis dwarf (kecil/kurcaci) yang baru. Pertama kali diperkenalkan ke Arba tahun 1984 oleh Bonnie S dari New Jersey namun baru diakui tahun 1988 pada konvensi arba. Kelinci jersey wollies awalnya dikembangkan sebagai hewan peliharaan dengan perawatan bulu (wool) yang mudah. Sekarang kelinci jersey wooly merupakan salah satu ras kelinci yang paling populer sejak dilaunching tahun 1988.

Kelinci jersey wooly dikembangkan melalui Kelinci Netherland Dwarf dengan Kelinci Angora Perancis dimana hasil silangan (cross) ini hewan peliharaan yang kecil dengan bulu panjang. Meski kelinci jersey woolies memiliki bulu yang lumayan panjang namun untuk urusan perawatannya tidak sesulit kelinci angora. Hal ini karena bulunya memiliki tekstur yang agak kasar sehingga tidak mudah menjadi kusut. Kelinci ini dikenal di Eropa sebagai kelinci Dwarf Angora dan hewan ini dikenal jinak serta pintar, sesuai sekali untuk hewan peliharaan.

Berat standard kelinci jersey wooly dewasa 1,5 kg. Lama hidup kelinci ini berkisar antara 7-10 tahun, namun bisa lebih lama lagi bila perawatannya sangat baik.

18.    Kelinci AMERICAN SABLE

Kelinci jenis American sable pertama kali muncul tahun 1924 yang berasal dari crossing kelinci Chinchilla oleh Otto B. Kelinci ini diakui tahun 1931 dan tahun 1970 mulai popular. Selajutnya tahun 1982 diakui oleh ARBA.

Kelinci American Sable ini berbadan besar dan bongsor, memiliki temperamen yang jinak dan senang dimanja manusia, dan hobby-nya tidur, serta sangat sesuai untuk hewan peliharaan.

Warna tubuhnya kebanyakan coklat sepia, juga ada yang hitam, dan pada bagian telinga, ekor, wajah, punggung dan kaki coklat sepianya gelap atau hitam. Bagian bawah agak memudar sephia coklatnya atau hitamnya. Untuk yang jantan disebut senior setelah 6 bulan dan yang betina 8 bulan. Berat kelinci dewasa 8 kg. Umumnya memiliki mata berwarna coklat dan bila terkena pantulan sinar akan menampakan warna merah rubi.

19.    Kelinci CHINCHILLA (AMERICAN CHINCHILLA)

Nama Chinchilla sebenarnya sebutan untuk warna. Warna dasar chinchilla adalah abu-abu gelap dengan warna mutiara abu-abu dan hitam. Warna chinchilla karena bulunya kurang pigmen kuning dan karena efek optik bulu warna hitam dan warna abu-abu sehingga mempunyai penampilan abu-abu keperakan.

Kelinci Chinchilla atau sering disebut American Chinchilla, bentuk tubuh dan beratnya bermacam-macam, ada yang mini, sedang mau pun raksasa. Misalkan kelinci raksasa chinchilla atau sering disebut Giant Chinchilla, merupakan hasil persilangan antara Standard Chinchilla dan Flemish Giant. Kemudian kelinci Fuzzy Lop Chinchilla yang sebenarnya kelinci American Fuzzy Lop yang berwarna chinchilla.

Gizi Kelinci Memang “Nyeni”

Setidaknya ada dua hidangan yang bakal ditemui manakala kita jalan-jalan ke Lembang, dan singgah di rumah makan yang menyediakan masakan berbahan daging kelinci : sate kelinci dan gulai kelinci. Di daerah berhawa dingin seperti itu, masakan tersebut akan terasa lebih nikmat manakala disantap dalam keadaan hangat.

Namun masalah kehangatan rupanya hanya salah satu faktor yang membuat orang “kabungbulengan” dengan sajian berbahan daging kelinci. Supaya kelezatan bisa didapat lebih lengkap, jenis dan umur kelinci perlu pula diperhatikan. Dari pengalaman para penikmatnya diketahui, kelinci jenis flemis giant, Chinchilla, dan new zealand white, berusia antara 4 – 6 bulan, disebut-sebut yang paling pas dipilih untuk keperluan ini. Di samping tekstur dagingnya yang empuk dan seratnya yang halus, rasanya pun agak manis, khas daging kelinci. Biasanya dari seekor kelinci gemuk jenis ini dapat diperoleh 60 – 90 tusuk sate. Sedangkan sisanya, berupa potongan daging dan tulang-taleng, dijadikan bahan gulai.

Akan tetapi urusan melahap daging kelinci tak hanya berdampak pada peraihan kelezatannya semata. Beragam unsur gizi dalam komposisi demikian “nyeni” yang dimilikinya ternyata bisa juga diandalkan untuk merawat kesehatan, menjaga tubuh supaya senantiasa prima.

TINGGI PROTEIN RENDAH KOLESTEROL

Ditilik dari sifatnya, berdasar kitab “Feng Shui” Arab, sebagaimana ditulis Wied Harry Apriadji, ahli gizi masyarakat dan sumber daya keluarga, di http://e-nirmala.blogspot.com, daging kelinci termasuk dalam kelompok makanan sardi yang berarti dingin.

Tidak sebagaimana makanan kelompok garmi atau panas, yang memiliki efek berantai dalam tubuh hingga memacu sistem metabolisme, kelompok makanan sardi memiliki sifat sebaliknya. memperlambat metabolisme. Makanan jenis ini cocok dikonsumsi para orang tua dan penderita obesitas.

Sementara dari sisi gizi, seperti dapat dilihat di http://rabbitwrangler.wordpress.com, perkara yang layak dikagumi darinya berkaitan dengan kandungan kalorinya yang rendah (197 kal/100 gr bahan) sedangkan proteinnya terbilang tinggi (29 gr/100 gr bahan) hingga dapat memenuhi kebutuhan harian tubuh akan unsur ini sebanyak 58%.

Ini artinya, selain memang cocok dikonsumsi oleh mereka yang suka makan enak tetapi ingin tetap sehat, enggan terkena kegemukan, juga bisa diandalkan untuk mencegah terjadinya situasi gizi buruk gara-gara rendahnya asupan protein, dikenal dengan istilah “kwashiorkor”.

Hebatnya, meski tinggi protein, kandungan kolesterolnya justru rendah. Catatan Faiz Manshur, seorang penulis buku tentang kelinci, menunjukkan jumlah sekitar 164 mg/100 gram bahan, jauh di bawah kandungan kolesterol pada hewan lain, seperti ayam, sapi, domba, dan babi, yang memiliki kisaran jumlah 220 – 250 mg/100 gram bahan. Hal ini bermakna, pengonsumsi daging kelinci tak perlu takut jantungnya buntu gara-gara salurannya disumbat kolesterol yang dikandungnya.

MENCEGAH KANKER

Unsur lain yang tak kalah asyik untuk dilirik adalah niasin (8,43 mg/100 gr bahan, setara dengan 42% dari total kebutuhan harian), vitamin B12 (8,3 µg/100 gr bahan), dan selenium (Se) dengan kadar 38,5 µg/100 gr bahan, suatu jumlah yang dapat menutupi sekitar 55% kebutuhan harian tubuh akan unsur ini.

Niasin alias vitamin B3, yang sering juga disebut asam nikotinat, nikotinamid, niasinamid, atau pellagra-preventive (PP) factor, merupakan bagian dari ko-enzim NAD+ (nikotinamid adenin dinukleotida) dan NADP (nikotinamid adenin dinukleotida fosfat) dari enzim dehidrogenase, yang diperlukan sebagai katalis reaksi transfer hidrogen. Defisiensi niasin akan menimbulkan penyakit pellagra, yang gejalanya muncul pada kulit, saluran pencernaan dan sistem saraf pusat (three Ds of pellagra adalah : dermatitis, diare, dan depresi).

Sementara vitamin B12 atau kobalamin, yang memiliki nama lain antipernicious anemia factor, erythrocyte maturation factor, atau animal protein factor (APF), selain dapat diandalkan dalam mengawal pertumbuhan badan agar tetap normal, juga berperan penting dalam pemeliharaan jaringan saraf, dan pembentukan sel-sel darah merah.

Adapun Se merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase, yang berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik-peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel, hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker dan penyakit degeneratif lainnya- lantaran kepintarannya itu banyak pakar mengatakan, bahan ini mempunyai potensi sebagai pencegah kanker dan penyakit degeneratif lain.

Studi selama sepuluh tahun yang `dikomandani` the Arizona Cancer Center, pada 1.312 laki-laki dan perempuan dengan riwayat kanker kulit, mendapatkan, meski belum terbukti kemanjurannya dalam menjaga subjek dari terjangan kanker kulit baru, elemen kelumit (trace element) ini ternyata dapat melindungi mereka dari beberapa tipe kanker lainnya. Partisipan yang diberi suplemen Se 200 µg sehari memiliki 63%, 58%, dan 46% kemungkinan lebih rendah mendapat kanker prostat, kolorektal, serta paru-paru, dibanding mereka yang disuguhi plasebo.

Sementara hasil penelitian yang dilakukan para ahli US Departement of Agriculture, yang melakukan pengetesan pada beberapa wanita di New Zealand (di wilayah yang tanahnya memiliki kandungan Se rendah) dengan pemberian suplemen Se bervariasi selama enam bulan, menemukan, mereka yang disodori Se 400 µg sehari, memperlihatkan kemajuan yang signifikan berkaitan dengan mood dan level energinya dibanding wanita yang tidak diberi atau diberi namun dengan kadar lebih rendah.

Mengingat, menurut Prof. Dr. Ir. Deddy Muchtadi, M.S., yang menyelesaikan studi S-3 di Universite des Sciences et Techniques du Languedoc, Montpellier, Perancis, proses penuaan menurunkan kadar Se dalam tubuh : kadar Se dalam darah menurun sebanyak 7 persen setelah berumur 60 tahun, dan sebanyak 24% setelah berumur 75 tahun, agar orang tua bisa terbebas dari pellagra, terpelihara kesehatan sarafnya, tetap semangat lantaran mood-nya tak pernah kendur, dan terhindar dari gangguan kanker, merajinkan diri mengonsumsi daging kelinci merupakan salah satu solusinya.

MENOLONG PENDERITA ASMA

Kondisi lain yang juga bisa ditolong oleh daging kelinci adalah asma, yaitu suatu penyakit alergi yang bercirikan peradangan steril, disertai serangan sesak napas akut secara berkala, mudah tersengal-sengal dan batuk (dengan bunyi khas).

Melalui cara pelepasan mediator vasoaktif kuat, seperti histamin, serotonin, dan bradikinin, sel mastosit (mastcells) berperan penting dalam terjadinya serangan asma.
Agar situasi tersebut tidak terjadi sel mastosit perlu distabilisasi, salah satunya dengan pemberian antihistaminika, diantaranya ketotifen.

Daging kelinci diduga memiliki unsur tersebut. Penelitian Dian Kesuma dan kawan-kawan dari Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang, sekitar tahun 2000, berhasil membuktikannya. Berkat keberhasilannya itu mereka dinobatkan sebagai juara dalam lomba karya ilmiah tingkat nasional bidang IPA (ilmu pengetahuan alam), saat acara tersebut digelar di Solo.

Sebab ketotifen memiliki sifat mudah rusak oleh temperatur tinggi, supaya unsur ini maksimal masuk tubuh, masaklah daging kelinci dalam suhu rendah hingga sedang, tidak sampai melebihi 150 derajat Celsius.

Hal lain, berdasar pengalaman pribadinya, Dian Kesuma mengungkapkan bahwa efek penyembuhan asma dengan daging kelinci bisa didapatkan setelah dia mengonsumsi daging kelinci selama hampir satu tahun. Dengan kata lain, kesabaran merupakan kunci lain keberhasilan upaya ini.***

Oleh: Yuga Pramita, alumnus FKM Undip